![]() |
Beberapa bulan lalu, teror begal begitu marak terjadi dan menghantui masyarakat. Tak tanggung-tanggung, dari sejumlah wilayah seperti Jakarta, Tangerang, Depok, bahkan hingga Lampung tak luput disatroni oleh sejumlah sindikat perampok jalanan, yang biasa menjalankan aksinya disertai dengan kekerasan.
Bahkan, melalui penelusuran polisi, aksi kejahatan jalanan ini diduga seperti terorganisir, dengan menelisik kasus yang terjadi di beberapa lokasi. Saat itu, pihak kepolisian pun diminta sigap supaya kejahatan itu tidak semakin merajalela.
Hanya saja, karena lengahnya pihak kepolisian, akhirnya kejahatan perampasan dengan kekerasan ini menjadi semakin marak hanya dalam waktu kurang dari dua bulan. Jalan-jalan di Jakarta dan beberapa wilayah di sekitarnya pun seolah makin mencekam, tiap menjelang larut malam. Bahkan, kondisi seperti ini membuat masyarakat nekat mengambil tindakan main hakim sendiri, seperti dalam kejadian di wilayah Pondok Aren, Tangerang Selatan. Pelaku begal yang berhasil ditangkap oleh massa, dihajar beramai-ramai, kemudian dibakar.
Baru kemudian, Korps Bhayangkara langsung menggalakkan operasi dan razia, yang difokuskan untuk menyisir dan menanggulangi modus pembegalan kerap terjadi di sejumlah daerah. Berbagai tim khusus pun dibentuk, seperti misalnya Satuan Polres Jakarta Barat yang menurunkan tim beranggotakan 50 anggota reskrim, yang dipimpin langsung oleh sang Kapolres, Kombes M Fadil dan Kasat Reskrim AKBP Putu Putra Sadana, untuk menggelar operasi begal tersebut.
Berbagai gelaran operasi ini kemudian dinilai berhasil menekan angka kasus pembegalan, karena memang berhasil menjaring dan mengamankan sejumlah pelaku begal motor, dan mempersempit ruang geraknya. Bahkan, pengejaran pun dilakukan kepada sejumlah sindikat begal motor sampai ke Provinsi Lampung.
Setelah drama pemberantasan begal yang gencar dilakukan pihak kepolisian, di tengah derasnya isu yang menerpa korps mereka, akhirnya modus pencurian dengan kekerasan itu pun menurun. Jalanan di malam hari pun tak lagi serawan beberapa bulan sebelumnya, dan aparat keamanan pun seakan telah selesai melakukan tugasnya. Sehingga mereka kembali mengendurkan operasi serta gelaran razia sebelumnya.
Ternyata, modus kejahatan serupa pun masih sempat terulang kembali. Seperti yang baru-baru ini terjadi di wilayah Bandung, Jawa Barat. Seorang begal bernama Sudarman (29), berhasil dilumpuhkan oleh anggota Satreskrim Polrestabes Bandung di Jalan Baturaden, Kelurahan Mekar Jaya, Kecamatan Rancasari, Bandung, Jawa Barat. Sementara kawannya berinisial F pun berhasil meloloskan diri, dan sampai saat ini masih dalam pengejaran pihak kepolisian.
Dari tangan pria asal Lampung itu, polisi mengamankan barang bukti satu unit sepeda motor skuter otomatis berwarna hitam bernomor polisi D 2034 VBO, satu buah senjata rakitan jenis revolver, empat buah peluru kaliber 38 spc, tiga buah kunci astag, satu buah kunci magnet, tiga buah kunci motor, satu buah kunci inggris, satu buah kunci L, dan satu buah tang.
Ironisnya, pembegalan ini terjadi, justru saat pihak kepolisian sudah tak memiliki lagi program khusus, serta operasi dan razia untuk memberantas para begal dan aksi-aksinya tersebut di jalanan.
"Untuk menurunkan tingkat kejahatan itu caranya enggak cuma satu, memang banyak. Tapi hal itu pun sulit karena dengan banyaknya jenis kejahatan di sebuah regional. Menekan semua tingkat kejahatan sekaligus itu pastinya sulit. Apalagi kepolisian juga harus melakukan pengontrolan di daerah rawan, dan belum lagi masalah kepintaran dari si pelaku kejahatan dalam menjalankan aksinya," kata Psikolog Kriminal dan Forensik Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, Lia Sutisna Latif, saat dihubungi merdeka.com, Sabtu (29/8).
Lia mengatakan, modus kejahatan itu memang terkesan acak, dan memiliki siklus keberulangan sukar ditentukan oleh aparat keamanan. Namun, dia menekankan jika hal yang harus dilakukan pihak kepolisian adalah bergerak dengan cepat jika ada modus serupa terulang kembali. Dan hal itu tentunya membutuhkan kerjasama dengan masyarakat yang tak ragu melapor jika ada kejadian pembegalan tersebut.
"Dulu kan semua ditindak, dan munculnya itu seperti modus panen aja, di sini ada, di situ ada. Seperti kejahatan musiman saja dengan melihat strategi si pelaku yang memiliki kepintaran sendiri. Ketika polisi sudah tidak melakukan razia itulah mereka kembali muncul," ujar Lia.
"Polisi harus gerak cepat jika siklus dari modus kejahatan itu timbul lagi. Dan hal ini tentunya juga membutuhkan kerjasama masyarakat," tutup Lia.

Posting Komentar